EKSPLORASI ENDAPAN BATUBARA DI DAERAH BUNGAMAS, KABUPATEN LAHAT PROPINSI SUMATERA SELATAN
EKSPLORASI
ENDAPAN BATUBARA
DI
DAERAH BUNGAMAS, KABUPATEN LAHAT
PROPINSI
SUMATERA SELATAN
Daerah
penyelidikan terletak di sebelah Baratdaya Kota Palembang. Secara Administratif
termasuk wilayah Kecamatan Bungamas, Kabupaten Lahat, Propinsi Sumatera Selatan.
Secara Geografis terletak di antara 102o55’00”-103o30’00”
BT dan 3o35’00”-3o55A’00” LS.
Secara
regional daerah Bungamas dan sekitarnya termasuk dalam Cekungan Sumatera
Selatan dan formasi pembawa batubaranya adalah Formasi Muara Enim yang berumur Miosen
Akhir-Pliosen Awal, diendapkan dalam lingkungan darat-laut dangkal.
Dari
hasil pemetaan dan pemboran (10 titik)
ditemukan 3 (tiga) lapisan batubara, yaitu: Lapisan A, tebal antara
0.75-6,00 m, kemiringan berkisar antara 45o-87º dengan nilai kalori berkisar
antara 5.240-5.790 kal/gr (adb), lapisan B, tebal antara 1.20-7,00 m, kemiringan
berkisar antara 60o-86º dengan nilai kalori berkisar antara
5.540-6.390 kal/gr (adb), Lapisan C, tebal berkisar antara 0,80-6.00 m,
kemiringan berkisar antara 22o-84º dengan nilai kalori berkisar
antara 5.710-6.780 kal/gr (adb). Sedangkan nilai reflektansi vitrinit berkisar antara 0,20-036 %.Sumberdaya
batubara di daerah Bungamas dan sekitarnya sebesar 6.543.904 ton sampai kedalaman
50 meter.
1. Pendahuluan
Dalam
Proyek Daftar Isian Kegiatan Suplemen Batubara (DIK-S), Tahun Anggaran 1997/1998, Direktorat Sumberdaya Mineral
mendapat tugas untuk melaksanakan kegiatan pekerjaan Inventarisasi dan
Eksplorasi batubara di seluruh wilayah Indonesia. Salah satu kegiatan inventarisasi
dan eksplorasi endapan batubara tersebut dilaksanakan di daerah Bungamas dan
sekitarnya, Kecamatan Lahat, kabupaten Lahat, Propinsi Sumatera selatan.
Daerah
penyelidikan terletak di sebelah Baratdaya Kota Palembang. Secara Administratif
termasuk wilayah Kecamatan Bungamas, Kabupaten Lahat, Propinsi Sumatera
Selatan. Secara Geografis terletak diantara 102o55’00”-103o30’00”
BT dan 3o35”00”-3o55Â’00” LS
Lokasi
penyelidikan dapat dicapai dari kota Palembang melalui jalan lintas Sumatera
sejauh 300 km sampai kota Lahat. Dari
Lahat dilanjutkan sampai Ibu Kota Kecamatan Bungamas yang dianggap paling dekat
dengan daerah penyelidikan selama kurang lebih 2 jam perjalanan, sedangkan
untuk mencapai lokasi-lokasi daerah penyelidikan dapat dicapai dengan cara menyusuri sungai atau merintis jalan.
2. Geologi Regional
Secara
regional daerah penyelidikan termasuk ke dalam Cekungan Sumatera selatan yang
merupakan Cekungan Belakang Busur (Back Arc Basin) terbentuk oleh adanya
pergerakan ulang patahan-patahan bongkah, dimana kelompok sesar normal
membentuk bongkah-bongkah (Block faulting) pada batuan dasar (Basement)
Pra-Tersier serta diikuti oleh kegiatan Volkanisme secara periodik.
Batuan
yang terdapat di daerah penyelidikan terdiri dari batuan Pra-tersier dan batuan
endapan benua klastika yang bermur Tersier. Batuan Pra-Tersier merupakan batuan dasar yang tergabung dalam
Formasi Sepingtiang, Lingsing dan Saling yang berumur Jura Akhir-Kapur Awal
yang diendapkan pada lingkungan laut dalam. Diatas batuan tersebut diendapkan
secara tidak selaras batuan endapan benua klastika dari Formasi Kikim dan Anggota Cawang Formasi Kikim yang
berumur Paleosen-Oligosen Tengah.
Formasi
Kikim ditindih secara tidak selaras oleh
Formasi Talangakar yang berumur Oligosen Akhir-Miosen Awal yang diendapkan pada
lingkungan laut dangkal. Formasi Talangakar selaras diatasnya oleh Formasi
Baturaja yang berumur Miosen Awal. Di atas Formasi Baturaja diendapkan selaras
Formasi Gumai yang berumur Akhir Miosen Awal-Awal Miosen Tengah dan ditutupi
selaras oleh Formasi Air Benakat yang berumur Miosen Tengah-Miosen Akhir yang
diendapkan pada lingkungan laut dangkal.
Diatas
Formasi Air Benakat diendapkan selaras Formasi Muara Enim yang berumur Miosen Akhir-Pliosen pada
lingkungan peralihan yaitu lingkungan darat hingga laut dangkal.
Formasi
Kasai yang berumur Plio-Plistosen
diendapkan pada lingkungan darat menutupi tidak selaras Formasi Muara Enim.
Ketidak selarasan ini mencerminkan adanya periode pengangkatan dan erosi
setempat yang terjadi di Pegunungan Barisan.
Struktur
geologi daerah penyelidikan terjadi akibat adanya suatu proses pengangkatan
batuan Paleozoik dan Mesozoik yang menyebabkan batuan terlipat kuat. Kegiatan
tektonik terus berlangsung sampai Tersier Awal. Akibat dari pensesaran bongkah
regional menyebabkan terbentuknya dua cekungan sedimen utama berbentuk meanjang
yaitu Cekungan Sumatera selatan dan Cekungan Bengkulu, sedangkan tektonik
Plio-Plistosen menghasilkan struktur penting berarah Baratlaut-Tenggara.
Kerumitan
pola sesar pada batuan sedimen Tersier ini diduga erat kaitannya dengan
pensesaran pada batuan alas (Basement) yang diperkirakan sebagai penyebab
adanya variasi ketebalan batubara.
3. Geologi Daerah
Penyelidikan
Daerah
penyelidikan yang terletak di daerah
Bungamas dan sekitarnya merupaka bagian dari cekungan Sumatera Selatan.
Cekungan tersebut dikenal sebagai penghasil batubara terbesar di indonesia.
Secara
umum morfologi daerah penyelidikan terbagi menjadi tiga satuam morfologi, yaitu
Satuan Morfologi Pedataran, Satuan Morfologi Perbukitan Berelief Sedang dan
Satuan Morfologi Perbukitan Berelief Kasar.
Stratigrafi
daerah penyelidikan dapat digolongkan menjadi 3 yaitu : Kelompok Batuan
Par-Tersier dan Batuan Terobosan/Intrusi Batuan Beku, Kelompok Batuan Tersier
dan Endapan Kwarter.
Kelompok
Batuan Pra-Tersier
Kelompok
batuan ini yang tergabung dalam Formasi
Sepingtiang, Lingsing, dan Formasi Saling yang diperkirakan berumurJura
Akhir-Kapur Awal. Hubungan stratigrafi antara Formasi Lingsing dan Saling
adalah Menjemari, sedangkan Formasi sepingtiang menyentuh kedua formasi
tersebut secara tektonik.
Formasi
Sepingtiang menempati sebelah Baratdaya daerah penelitian, batuan penyusunnya
terdiri dari batugamping terumbu yang sudah mengalami ubahan, tersingkap di
sungai empayang Lintang dan empayang kasap, sifat fisik batuan tersebut adalah
berwarna putih, hitam, hijau dan abu-abu, keras dan pejal.
Formasi
Lingsing menempati sepanjang Sungai
Cawang, dimana batuan penyusunnya terdiri dari rijang, batulempung berwarna
merah, terdapat urat-urat tipis silika.
Formasi
Saling tersingkap di Sungai Cawang, batuan penyusunnya terdiri dari batuan
volkanik dan batupasir konglomeratan sedangkan batuan yang bersifat
andesitik-basaltik tersingkap di sungai empayang Lintang dan Empayang Kasap.
Batuan-batuan
yang terdapat pada Formasi Sepingtiang, Saling dan Lingsing diendapkan pada
lingkungan laut dangkal-lautdalam.
Batuan
terobosan tersingkap di Sungai Empayang
Kasap dan Empayang Lintang berupa Granodiorit yang menerobos Formasi Saling,
batuan ini diperkirakan berumur Kapur Akhir.
Kelompok
Batuan Tersier
Kelompok
batuan ini tersingkap di daerah penyelidikan yang tergabung dalam Formasi
Kikim, Anggota Cawang Formasi kikim, Talangakar, Gumai, Air Benakat, Muara Enim
dan Kasai.
Formasi
Kikim menempati sebelah selatan dan baratdaya daerah penyelidikan, batuan
penyusunya terdiri dari breksi volkanik, batupasir tufan, batulempung, dan
batulanau, tersingkap di Sungai Cawang dan diperkirakan berumur
Paleosen-Oligosen Awal.
Anggota
Cawang Formasi Kikim sebarannya meliputi daerah sebelah selatan dan baratdaya
daerah penyelidikan. Hubungan stratigrafi dengan Formasi Kikim saling
menjemari, batuan penyusunnya terdiri dari batupasir kuarsa konglomeratan,
batupasir, batulempung dan batulanau yang mempunyai kisaran umur antara
Paleosen-Oligosen.
Formasi
Gumai menempati sebelah selatan daerah
penyelidikan, dimulai dari Sungai Empayang, Cawang, Saling, Suban menerus
sampai ke Sungai Gelumpai dan Sungai Kikim Kecil. Batuan penyusunnya terdiri
dari serpih hitam dengan lensa-lensa dan nodul batugamping berbentuk silinder,
sedangkan pirit menyebar tidak merata, halus-bongkah berdiameter 2-6 cm,
berbentuk framboidal. Diduga mempunyai kisaran umur Miosen tengah.
Formasi
Air Benakat sebarannya memanjang dari
timur ke barat daerah penyelidikan, dimana batuan penyusunnya terdiri dari
batulempung, batulanau dan batupasir, diperkirakan berumur Miosen Tengah-miosen
Akhir.
Formasi
Muaraenim merupakan formasi pembawa
batubara (Coal Bearing Formation) di daerah penyelidikan, tersingkap di bagian
tengah dan sebarannya berarah barat-timur, menipis ke arah barat selaras diatas
Formasi Air benakat, berumur Miosen Tengah-Miosen Atas dan diendapkan pada
lingkungan laut dangkal. Batuan penyusunnya terdiri dari Batupasir, batupasir
tufan, batulempung, batulanau dan batubara.
Struktur
geologi yang berkembang di daerah penyelidikan berupa struktur lipatan dan
sesar yang terdapat dalam batuan Pra-Tersier dan Tersier. Struktur lipatan
dalam batuan Pra-Tersier terdapat di sekitar Pegunungan Gumai, yang intensitas
deformasinya menunjukan lebih dari satu periode. Sedangkan struktur lipatan dalam batuan tersier berupa
sinklin dan antiklin yang terdapat di sekitar Lahat dan di Sungai Puntang. Arah
dari sumbu lipatannya hampir barat-timur.
Sedangkan
sesar mendatar yang terdapat di daerah Muara Cawang, Sukarame berarah
baratlaut-tenggara, mengoyak satuan batupasir, batulempung, batulanau, serpih dan napal yang terdapat pada Formasi
Muara Enim, Airbenakat dan Gumai.
Sesar
normal yang terdapat disekitar Batuninding dan hulu Sungai Saling, berarah
timurlaut-baratdaya dan baratlaut-tenggara, mengoyak Formasi Muara Enim,
Airbenakat, Gumai, Talangakar, Kikim, Anggota cawang Formasi Kikim, Lingsing
dan Formasi Saling. Sesar-sesar tersebut diduga terjadi akibat adanya fase
kejadian tektonik Plio-Plistosen.
4. Potensi Endapan
Batubara
Penyelidikan
yang dilakukan ditekankan pada formasi pembawa batubara yaitu Formasi Muara
Enim, karena formasi ini diduga
mengandung endapan batubara yang cukup prospek untuk dikembangkan.Tahapan
pekerjaan yang dilakukan di lapangan dibagi menjadi 2 yaitu pekerjaan pemetaan geologi dan pemboran.
Pekerjaan
Pemetaan
Pekerjaan
ini meliputi pemetaan geologi tinjau dengan luas daerah sekitar 93.750 Ha,
dengan skala 1 : 50.000, dan pemetaan geologi rinci dibatasi hanya pada formasi
pembawa batubaranya saja. Dari hasil pemetaan diketahui bahwa formasi pembawa
batubara di daerah penyelidikan adalah Formasi Muara enim, dan pada formasi
tersebut ditemukan 36 lokasi singkapan batubara yang tersebar di beberapa
daerah.
Sedangkan
pekerjaan pemboran dilakukan sebanyak 10 buah lobang bor dengan kedalaman
terbatas sampai 25 meter. Pemboran dilakukan di tempat-tempat tertentu yang
sulit mendapatkan singkapan dan mungkin letak batubara jauh dibawah permukaan,
dengan adanya pemboran tersebut bisa melacak kedalaman dan sejauh mana
penyebaran batubara di daerah penyelidikan.
Berdasarkan
hasil rekonstruksi data-data dari singkapan dan hasil pemboran, diketahui bahwa
di daerah Bungamas dan sekitarnya terdapat tiga lapisan batubara yang cukup
prospek yang masing-masing antara lain :
Lapisan A : Ketebalan batubara pada lapisan ini
berkisar antara 0,75-6,00 meter, kemiringan lapisan antara 45o-87o dan dapat
diikuti sepanjang 5.000 meter.
Lapisan B : Ketebalan batubara pada
lapisan ini berkisar antara 1,20-7,00 meter, kemiringan lapisan antara 60o-86o
dan dapat diikuti sepanjang 12.250 meter.
Lapisan C : Ketebalan batubara pada
lapisan ini berkisar antara 0,80-6,00 meter, kemiringan lapisan antara 22o-84o
dan dapat diikuti sepanjang 8.500 meter.
5. Kualitas Batubara
Kualitas
batubara dari hasil analisis kimia (adb) terhadap 24 conto batubara menunjukan
Nilai Kalori (CV) berkisar dari 5.240-6.780 kal/gram, Kadar Abu (Ash) berkisar antara 1.7-12.4%,
Zat terbang (VM) berkisar antara 38.7-53.7%, Karbon Tertambat (FC) berkisar
antara 32.4-43.9%, kadar belerang (S) berkisar antara 0.18-2.89%, Kadar Air
Total (TM ) berkisar antara 17.2-37.4%, Kadar Air Tertambat (IM) berkisar
antara 8.5-14.9%. Sedangkan hasil
analisis Petrografi dari 12 coto batubara menunjukan nilai reflektansi sebagai
berikut : Lapisan A nilai reflektansinya berkisar dari 0,2-033 ; Lapisan B
nilai reflektansinya berkisar dari 0,32-0,35 ;
Lapisan C nilai reflektansinya berkisar dari 0,34-0,38 %.
6. Sumberdaya Batubara
Perhitungan
sumberdaya batubara dalam penyelidikan ini
dilakukan berdasarkan hasil rekonstruksi masing-masing penyebaran
lapisan batubara. Dari hasil rekonstruksi tersebut diketahui sumberdaya
batubara sampai kedalaman 50 meter di daerah penyelidikan sebesar 6.543.904 ton
7. Pospek Pengembangan
Batubara
Secara
kualitas, batubara yang terdapat di daerah Bungamas dan sekitarnya menunjukkan
nilai kalori yang cukup bagus berkisar antara 5.240 – 6.780 kal/gr, dengan
kadar abu sekitar 1,7 – 12,4 % serta sulfur berkisar antara 0,18-2,89 %.
Sedangkan
secara kuantitas, sumber daya batubara di daerah Bungamas dan sekitarnya cukup
besar dan layak dipertimbangkan untuk usaha pertambangan skala besar, dengan
pertimbangan lokasi tersebut dekat dengan jalan utama sebagai sarana
transportasi.
6. Kesimpulan Dan Saran
Dari
hasil pembahasan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
Ø Formasi
pembawa batubara di daerah Bungamas dan sekitarnya adalah Formasi Muara Enim
yang berumur Miosen Akhir-Pliosen Awal dan diendapkan pada lingkungan
darat-laut dangkal.
Ø Hasil
pengamatan dari 36 singkapan batubara yang terdapat di daerah penyelidikan
terdapat tiga lapisan batubara dengan
ketebalan bervariasi dari 0,75-7,00
meter. Kemiringan bervariasi dari 22o-87o dan Nilai kalori berkisar dari
5.455-6.780 kal/gr. Sedangkan hasil analisa petrografi dari 12 conto batubara
menunjukan nilai reflektansi berkisar
dari 0,22-0,38.
Ø Sumberdaya
batubara terindikasi di daerah penyelidikan dan sekitarnya sampai kedalaman 50
meter sebesar 6.543.904 ton.
DAFTAR PUSTAKA
Adiwidjaya
P. and de Coster G.L., 1973 ; Pre Tertiary Paleontopography and related
Sedimentation in South Sumatera, Proc.IPA, Second Anual Convention
Gafoer
S., Amin TC., dan Pardede R., 1992 ; Peta Geologi Lembar Bengkulu Sumatera
Selatan, skala 1 : 250.000. Pusat
Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung.
Koesoemadinata
R.P. dan Hardjono, 1977 ; Kerangka Sedimenter endapan Batubara Tersier
Indonesia, Pertemuan Ilmiah Tahunan
ke-6, IAGI.
Eddy
R.S. dkk., 1978 ; Penyelidikan Pendahuluan Endapan Batubara di Daerah Kikim dan
Sekitarnya, Kabupaten Lahat, Propinsi
Sumatera selatan.
Semoga artikel EKSPLORASI ENDAPAN BATUBARA DI DAERAH BUNGAMAS, KABUPATEN LAHAT PROPINSI SUMATERA SELATAN bermanfaat bagi Anda. Jika kamu suka dengan artikel EKSPLORASI ENDAPAN BATUBARA DI DAERAH BUNGAMAS, KABUPATEN LAHAT PROPINSI SUMATERA SELATAN ini, like dan bagikan ketemanmu.
Posting Komentar