PROSES TERJADINYA ENDAPAN EPITHERMAL
ENDAPAN MINERAL
EPITHERMAL
1.1 Proses Epithermal
Endapan epitermal didefinisikan
sebagai salah satu endapan dari sistem hidrotermal yang terbentuk pada
kedalaman dangkal yang umumnya pada busur vulkanik yang dekat dengan permukaan
(Simmons et al, 2005 dalam Sibarani, 2008). Penggolongan tersebut berdasarkan
temperatur (T), tekanan (P) dan kondisi geologi yang dicirikan oleh kandungan
mineralnya. Secara lebih detailnya endapan epitermal terbentuk pada kedalaman
dangkal hingga 1000 meter dibawah permukaan dengan temperatur relatif rendah
(50-200)0C dengan tekanan tidak lebih dari 100 atm dari cairan meteorik dominan
yang agak asin (Pirajno, 1992).
Tekstur penggantian (replacement)
pada mineral tidak menjadi ciri khas karena jarang terjadi. Tekstur yang banyak
dijumpai adalah berlapis (banded) atau berupa fissure vein. Sedangkan struktur
khasnya adalah berupa struktur pembungkusan (cockade structure). Asosiasi pada
endapan ini berupa mineral emas (Au) dan
perak (Ag) dengan mineral penyertanya berupa mineral kalsit, mineral zeolit dan
mineral kwarsa. Dua tipe utama dari endapan ini adalah low sulphidation dan
high sulphidation yang dibedakan terutama berdasarkan pada sifat kimia
fluidanya dan berdasarkan pada alterasi dan mineraloginya.
Endapan epithermal umumnya ditemukan
sebagai sebuah pipe-seperti zona dimana batuan mengalami breksiasi dan
teralterasi atau terubah tingkat tinggi. Veins juga ditemukan, khususnya
sepanjang zona patahan., namun mineralisasi vein mempunyai tipe tidak menerus
(discontinuous).Pada daerah volcanic, sistem epithermal sangat umum ditemui dan
seringkali mencapai permukaan, terutama ketika fluida hydrothermal muncul
(erupt) sebagai geyser dan fumaroles. Banyak endapan mineral epithermal tua
menampilkan fossil ‘roots’ dari sistem fumaroles kuno. Karena mineral-mineral
tersebut berada dekat permukaan, proses erosi sering mencabutnya secara cepat,
hal inilah mengapa endapan mineral epithermal tua relatif tidak umum secara global. Kebanyakan dari endapan
mineral epithemal berumur Mesozoic atau lebih muda.
Mineralisasi epitermal memiliki
sejumlah fitur umum seperti hadirnya kalsedonik quartz, kalsit, dan breksi
hidrotermal. Selain itu, asosiasi elemen juga merupakan salah satu ciri dari
endapan epitermal, yaitu dengan elemen bijih seperti Au, Ag, As, Sb, Hg, Tl,
Te, Pb, Zn, dan Cu. Tekstur bijih yang dihasilkan oleh endapan epitermal
termasuk tipe pengisian ruang terbuka (karakteristik dari lingkungan yang
bertekanan rendah), krustifikasi, colloform banding dan struktur sisir. Endapan
yang terbentuk dekat permukaan sekitar 1,5 km dibawah permukaan ini juga
memiliki tipe berupa tipe vein, stockwork dan diseminasi.Dua tipe utama dari
endapan ini adalah low sulphidation dan high sulphidation yang dibedakan
terutama berdasarkan pada sifat kimia fluidanya dan berdasarkan pada alterasi
dan mineraloginya (Hedenquist et al., 1996:2000 dalam Chandra,2009).
Dibawah ini digambarkan ciri-ciri umum endapan epitermal
(Lingren, 1933 dalam Sibarani,2008)):
Ø Suhu relatif rendah (50-250°C) dengan
salinitas bervariasi antara 0-5 wt.%
Ø Terbentuk pada kedalaman dangkal (~1
km)
Ø Pembentukan endapan epitermal terjadi
pada batuan sedimen atau batuan beku, terutama yang berasosiasi dengan batuan
intrusiv dekat permukaan atau ekstrusif, biasanya disertai oleh sesar turun dan
kekar.
Ø Zona bijih berupa urat-urat yang
simpel, beberapa tidak beraturan dengan pembentukan kantong-kantong bijih,
seringkali terdapat pada pipa dan stockwork. Jarang terbentuk sepanjang
permukaan lapisan, dan sedikit kenampakan replacement (penggantian).
Ø
Ø Logam mulia terdiri dari Pb, Zn, Au,
Ag, Hg, Sb, Cu, Se, Bi, U
Ø Mineral bijih berupa Native Au, Ag,
elektrum, Cu, Bi, Pirit, markasit, sfalerit, galena, kalkopirit, Cinnabar,
jamesonite, stibnite, realgar, orpiment, ruby silvers, argentite, selenides, tellurides.
Ø Mineral penyerta adalah kuarsa,
chert, kalsedon, ametis, serisit, klorit rendah-Fe, epidot, karbonat, fluorit,
barite, adularia, alunit, dickite, rhodochrosite, zeolit
Ø Ubahan batuan samping terdiri
dari chertification (silisifikasi),
kaolinisasi, piritisasi, dolomitisasi, kloritisasi
Ø Tekstur dan struktur yang terbentuk
adalah Crustification (banding) yang sangat umum, sering sebagai fine banding,
vugs, urat terbreksikan.
Karakteristik umum dari endapan epitermal (Simmons et al,
2005 dalam Sibarani, 2008) adalah:
Ø Jenis air berupa air meteorik dengan
sedikit air magmatik
Ø Endapan epitermal mengandung mineral
bijih epigenetic yang pada umumnya memiliki batuan induk berupa batuan
vulkanik.
Ø Tubuh bijih memiliki bentuk yang
bervariasi yang disebabkan oleh kontrol dan litologi dimana biasanya
merefleksikan kondisi paleo-permeability pada kedalaman yang dangkal dari
sistem hidrotermal.
Ø Sebagian besar tubuh bijih terdapat
berupa sistem urat dengan dip yang terjal yang terbentuk sepanjang zona
regangan. Beberapa diantaranya terdapat bidang sesar utama, tetapi biasanya
pada sesar-sesar minor.
Ø Pada suatu jaringan sesar dan kekar
akan terbentuk bijih pada urat.
Ø Mineral gangue yang utama adalah
kuarsa sehingga menyebabkan bijih keras dan realtif tahan terhadap pelapukan.
Ø Kandungan sulfida pada urat relatif
sedikit (<1 s/d 20%).
1.2 Klasifikasi Endapan Epithermal
Pada lingkungan epitermal terdapat 2
(dua) kondisi sistem hidrotermal (Gambar 2.4) yang dapat dibedakan berdasarkan
reaksi yang terjadi dan keterdapatan mineral-mineral alterasi dan mineral
bijihnya yaitu epitermal low sulfidasi dan high sulfidasi (Hedenquist et al
.,1996; 2000 dalam Sibarani, 2008).
Pengklasifikasian endapan epitermal masih merupakan perdebatan hingga
saat ini, akan tetapi sebagian besar mengacu kepada aspek mineralogi dan gangue
mineral, dimana aspek tersebut merefleksikan aspek kimia fluida maupun aspek
perbandingan karakteristik mineralogi, alterasi (ubahan) dan bentuk endapan
pada lingkungan epitermal. Aspek kimia dari fluida yang termineralisasi adalah
salah satu faktor yang terpenting dalam penentuan kapan mineralisasi tersebut
terjadi dalam sistem hidrotermal.
1. Karakteristik Endapan Epitermal Sulfida
Rendah / Tipe Adularia-Serisit ( Epithermal Low Sulfidation )
a. Tinjauan Umum
Endapan epitermal sulfidasi rendah
dicirikan oleh larutan hidrotermal yang bersifat netral dan mengisi celah-celah
batuan. Tipe ini berasosiasi dengan alterasi kuarsa-adularia, karbonat, serisit
pada lingkungan sulfur rendah dan biasanya perbandingan perak dan emas relatif
tinggi. Mineral bijih dicirikan oleh terbentuknya elektrum, perak sulfida,
garam sulfat, dan logam dasar sulfida. Batuan induk pada deposit logam mulia
sulfidasi rendah adalah andesit alkali, dasit, riodasit atau riolit. Secara
genesa sistem epitermal sulfidasi rendah berasosiasi dengan vulkanisme
riolitik. Tipe ini dikontrol oleh struktur-struktur pergeseran (dilatational
jog).
b. Genesa dan Karakteristik
Endapan ini terbentuk jauh dari tubuh
intrusi dan terbentuk melalui larutan sisa magma yang berpindah jauh dari
sumbernya kemudian bercampur dengan air meteorik di dekat permukaan dan
membentuk jebakan tipe sulfidasi rendah, dipengaruhi oleh sistem boiling
sebagai mekanisme pengendapan mineral-mineral bijih. Proses boiling disertai pelepasan
unsur gas merupakan proses utama untuk pengendapan emas sebagai respon atas
turunnya tekanan. Perulangan proses boiling akan tercermin dari tekstur
“crusstiform banding” dari silika dalam urat kuarsa. Pembentukan jebakan urat
kuarsa berkadar tinggi mensyaratkan pelepasan tekanan secara tiba-tiba dari
cairan hidrotermal untuk memungkinkan proses boiling. Sistem ini terbentuk pada
tektonik lempeng subduksi, kolisi dan pemekaran (Hedenquist dkk., 1996 dalam
Pirajno, 1992).
Kontrol utama terhadap pH cairan adalah konsentrasi CO2 dalam
larutan dan salinitas. Proses boiling dan terlepasnya CO2 ke fase uap
mengakibatkan kenaikan pH, sehingga terjadi perubahan stabilitas mineral
contohnya dari illit ke adularia. Terlepasnya CO2 menyebabkan terbentuknya kalsit,
sehingga umumnya dijumpai adularia dan bladed calcite sebagai mineral pengotor
(gangue minerals) pada urat bijih sistem sulfidasi rendah
Endapan epitermal sulfidasi rendah akan berasosiasi dengan
alterasi kuarsa–adularia, karbonat dan serisit pada lingkungan sulfur rendah.
Larutan bijih dari sistem sulfidasi rendah variasinya bersifat alkali hingga
netral (pH 7) dengan kadar garam rendah (0-6 wt)% NaCl, mengandung CO2 dan CH4
yang bervariasi. Mineral-mineral sulfur biasanya dalam bentuk H2S dan sulfida
kompleks dengan temperatur sedang (150°-300° C) dan didominasi oleh air
permukaan
Batuan samping (wallrock) pada endapan epitermal sulfidasi
rendah adalah andesit alkali, riodasit, dasit, riolit ataupun batuan – batuan
alkali. Riolit sering hadir pada sistem sulfidasi rendah dengan variasi jenis
silika rendah sampai tinggi. Bentuk endapan didominasi oleh urat-urat kuarsa
yang mengisi ruang terbuka (open space), tersebar (disseminated), dan umumnya
terdiri dari urat-urat breksi (Hedenquist dkk., 1996). Struktur yang berkembang
pada sistem sulfidasi rendah berupa urat, cavity filling, urat breksi, tekstur
colloform, dan sedikit vuggy (Corbett dan Leach, 1996), lihat Tabel 2.1
Tabel 2.1
Karakteristik endapan epitermal
sulfidasi rendah (Corbett dan Leach, 1996).

c. Interaksi Fluida
Epithermal Low Sulphidation terbentuk dalam suatu sistem
geotermal yang didominasi oleh air klorit dengan pH netral dan terdapat
kontribusi dominan dari sirkulasi air meteorik yang dalam dan mengandung CO2,
NaCl, and H2S
d. Model Konseptual Endapan Emas Epitermal
Sulfidasi Rendah

Gambar.2.9 Model endapan emas
epitermal sulfidasi rendah
(Hedenquist dkk., 1996
dalam Nagel, 2008).
Gambar diatas (Gambar.2.9) merupakan
model konseptual dari endapan emas sulfidasi rendah. Dari gambar tersebut dapat
dilihat bahwa endapan ephitermal sulfidasi rendah berasosiasi dengan lingkungan
volkanik, tempat pembentukan yang relatif dekat permukaan serta larutan yang
berperan dalam proses pembentukannya berasal dari campuran air magmatik dengan
air meteorit
2. Karakteristik Endapan Epitermal Sulfida
Tinggi (Epithermal High Sulfidation) atau Acid Sulfate
a. Tinjauan Umum
Endapan epitermal high sulfidation dicirikan dengan host rock
berupa batuan vulkanik bersifat asam hingga intermediet dengan kontrol struktur
berupa sesar secara regional atau intrusi subvulkanik, kedalaman formasi batuan
sekitar 500-2000 meter dan temperatur 1000C-3200C. Endapan Epitermal High Sulfidation terbentuk oleh sistem dari
fluida hidrotermal yang berasal dari intrusi magmatik yang cukup dalam, fluida
ini bergerak secara vertikal dan horizontal menembus rekahan-rekahan pada
batuan dengan suhu yang relatif tinggi (200-3000C), fluida ini didominasi oleh
fluida magmatik dengan kandungan acidic yang tinggi yaitu berupa HCl, SO2, H2S
(Pirajno, 1992).

Gambar 2.10
Keberadaan sistem sulfidasi tinggi

Gambar 2.11 Penampang Ideal Endapan
Epitermal Menurut Buchanan (1981)
a. Genesa dan Karakteristik
Endapan epitermal high sulfidation
terbentuk dari reaksi batuan induk dengan fluida magma asam yang panas, yang
menghasilkan suatu karakteristik zona alterasi (ubahan) yang akhirnya membentuk
endapan Au+Cu+Ag. Sistem bijih menunjukkan kontrol permeabilitas yang
tergantung oleh faktor litologi, struktur, alterasi di batuan samping,
mineralogi bijih dan kedalaman formasi. High sulphidation berhubungan dengan pH
asam, timbul dari bercampurnya fluida yang mendekati pH asam dengan larutan
sisa magma yang bersifat encer sebagai hasil dari diferensiasi magma, di
kedalaman yang dekat dengan tipe endapan porfiri dan dicirikan oleh jenis
sulfur yang dioksidasi menjadi SO.
b. Interaksi Fluida
Epithermal High Sulphidation
terbentuk dalam suatu sistem magmatic-hydrothermal yang didominasi oleh fluida
hidrothermal yang asam, dimana terdapat fluks larutan magmatik dan vapor yang
mengandung H2O, CO2, HCl, H2S, and SO2, dengan variabel input dari air meteorik
lokal.
2.2 Potensi Dan Keberadaan Endapan Epithermal
Jenis endapan epitermal yang terletak
500 m bagian atas dari suatu sistem hidrotermal ini merupakan zone yang menarik
dan terpenting. Disini terjadi perubahan-perubahan suhu dan tekanan yang
maksimum serta mengalami fluktuasi-fluktuasi yang paling cepat.
Fluktuasi-fluktuasi tekanan ini menyebabkan perekahan hidraulik (hydraulic
fracturing), pendidihan (boiling), dan perubahan-perubahan hidrologi sistem
yang mendadak. Proses-proses fisika ini secara langsung berhubungan dengan proses-proses
kimiawi yang menyebabkan mineralisasi Terdapat suatu kelompok unsur-unsur yang
umumnya berasosiasi dengan mineralisasi epitermal, meskipun tidak selalu ada
atau bersifat eksklusif dalam sistem epitermal. Asosiasi klasik unsur-unsur ini
adalah: emas (Au), perak (Ag), arsen (As), antimon (Sb), mercury (Hg), thallium
(Tl), dan belerang (S)
Dalam endapan yang batuan penerimanya
karbonat (carbonat-hosted deposits), arsen dan belerang merupakan unsur utama
yang berasosiasi dengan emas dan perak (Berger, 1983), beserta dengan sejumlah
kecil tungsten/wolfram (W), molybdenum (Mo), mercury (Hg), thallium (Tl),
antimon (Sb), dan tellurium (Te); serta juga fluor (F) dan barium (Ba) yang
secara setempat terkayakan. Dalam
endapan yang batuan penerimanya volkanik (volcanic-hosted deposits) akan
terdapat pengayaan unsur-unsur arsen (As), antimon (Sb), mercury (Hg), dan
thallium (Tl); serta logam-logam mulia (precious metals) dalam daerah-daerah
saluran fluida utama, sebagaimana asosiasinya dengan zone-zone alterasi
lempung. Menurut Buchanan (1981), logam-logam dasar (base metals)
karakteristiknya rendah dalam asosiasinya dengan emas-perak, meskipun demikian
dapat tinggi pada level di bawah logam-logam berharga (precious metals) atau
dalam asosiasi-nya dengan endapan-endapan yang kaya perak dimana unsur mangan
juga terjadi. Cadmium (Cd), selenium (Se) dapat berasosiasi dengan logam-logam
dasar; sedangkan fluor (F), bismuth (Bi), tellurium (Te), dan tungsten (W)
dapat bervariasi tinggi kandungannya dari satu endapan ke endapan yang lainnya;
serta boron (B) dan barium (Ba) terkadang terkayakan.
Mineral-mineral ekonomis yang
dihasilkan dari epitermal antara lain
Au, Ag, Pb, Zn, Sb, Hg, arsenopirit, pirit, garnet, kalkopirit, wolframit,
siderit, tembaga, spalerite, timbal, stibnit, katmiun, galena, markasit,
bornit, augit, dan topaz. Berikut ini adalah beberapa contoh logam hasil dari
endapan epitermal yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi, antara lain: Emas
(Au) dan Perak (Ag).
1.3 Emas
Emas adalah unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki
simbol Au (bahasa Latin: 'aurum') dan nomor atom 79. Sebuah logam transisi
(trivalen dan univalen) yang lembek, mengkilap, kuning, berat,
"malleable", dan "ductile". Emas tidak bereaksi dengan zat
kimia lainnya tapi terserang oleh klorin, fluorin dan aqua regia. Logam ini
banyak terdapat di nugget emas atau serbuk di bebatuan dan di deposit alluvial
dan salah satu logam coinage. Kode ISOnya adalah XAU. Emas melebur dalam bentuk
cair pada suhu sekitar 1000 derajat celcius.
Emas merupakan logam yang bersifat
lunak dan mudah ditempa, kekerasannya berkisar antara 2,5 – 3 (skala Mohs),
serta berat jenisnya tergantung pada jenis dan kandungan logam lain yang
berpadu dengannya. Mineral pembawa emas biasanya berasosiasi dengan mineral ikutan
(gangue minerals). Mineral ikutan tersebut umumnya kuarsa, karbonat, turmalin,
flourpar, dan sejumlah kecil mineral non logam. Mineral pembawa emas juga
berasosiasi dengan endapan sulfida yang telah teroksidasi. Mineral pembawa emas
terdiri dari emas nativ, elektrum, emas telurida, sejumlah paduan dan senyawa
emas dengan unsur-unsur belerang, antimon, dan selenium. Elektrum sebenarnya
jenis lain dari emas nativ, hanya kandungan perak di dalamnya >20% (Sutarto,
2004).
Sebagian besar endapan emas di Indonesia
dihasilkan jenis endapan epitermal. Endapan emas tipe ini umumnya didapatkan
dalam bentuk urat, baik dalam urat kuarsa maupun dlam urat bentuk karbonat yang
terbentuk dalam suhu 150-3000C dengan pH sedikit asam atau mendekati netral
Urat-urat tersebut terbentuk oleh hasil aktifitas hidrotermal yang berada di
sekitar endapan porfiri. Dimana emas, perak, tembaga, wolfram, dan timah
terdapat dalam endapan ini (Sukandarrumidi, 2007).
Kebanyakan emas epitermal terdapat
dalam vein-vein yang berasosiasi dengan Alterasi Quartz-Illite yang menunjukkan
pengendapan dari fluida-fluida dengan pH mendekati netral (Fluida-fluida
Khlorida Netral) Dalam alterasi dan mineralisasi dengan jenis fluida ini, emas
dijumpai dalam vein, veinlet, breksi ekplosi atau breksi hidrotermal, dan
stockwork atau stringer Pyrite+Quartz yang berbentuk seperti rambut (hairline)
Emas epitermal juga terdapat dalam
Alterasi Advanced-Argillic dan alterasi-alterasi sehubungan yang terbentuk dari
Fluida-fluida Asam Sulfat. Dalam alterasi dan mineralisasi dengan jenis fluida
ini, emas dijumpai dalam veinlet, batuan-batuan silika masif, atau dalam
rekahan-rekahan atau breksi-breksi dalam batuan.Proses terbentuknya emas
endapan epitermal dapat diuraikan sebagai berikut: emas diangkut oleh larutan hidrotermal
yang kaya akan ligand HS- dan OH-. Ligan ini mengangkut emas hingga ke tempat
pengendapannya. Kehadiran breksi hidrotermal merupakan salah satu cirri adanya
proses pendidihan pada larutan hidrotermal. Pendidihan terjadi karena ada
pertemuan antara larutan yang bersuhu tinggi (hidrotermal) dengan larutan yang
bersuhu rendah (larutan meteoric). Selama proses pendidihan ini tekanan menjadi
semakin besar sehingga mengancurkan dinding batuan yang dilalui larutan
hidrotermal. Akibat proses pendidihan tersebut, yaitu hilangnya gas H2S,
terjadi peningkatan pH dan penurunan suhu. Ketiga proses tersebut dapat
mengantarkan emas pada batuan sehingga kadar emas primer tinggi biasanya
dijumpai di breksi hidrotermal (Sukandarrumidi, 2007).
Dibawah ini contoh endapan emas epitermal dari sistem low
sulfidation dan high sulfidation.
Tabel 2.2 Contoh
endapan emas epitermal (high sulfidation)

Tabel 2.3 Contoh
endapan emas epitermal (Low Sulphidation)

1.4 Perak
Dijumpai sebagai unsur (perak murni)
atau sebagai senyawa. Sebagai perak
murni (Ag) mempunyai sifat; Kristal-kristal berkelompok tersusun sejajar,
menjarum, atau menjaring, kadang berupa sisik, kilap logam. Dalam bentuk mineral didapatkan sebagai argentite,
cerrargirit, miagirit, dan proustit (Sukandarrumidi, 2007). Perak biasanya
berasosiasi dengan pirit, tembaga, emas, kalsit, dan nikel. Perak terbentuk
dari reduksi sulfide pada bagian bawah endapan Ag, Zn, dan Pb. Terkadang juga
terbentuk sebagai endapan primer urat epitermal berasosiasi dengan kalsit
(temperature rendah) (Sutarto, 2004). Kandungan perak pada beberapa mineral
dapat mencapai perak murni (100%), argentite (87%), prousite (65%), miagrite
(36%), dan dalam kandungan emas (28%). Endapan perak yang dihasilkan dari endapan
emas kurang lebih 75% didapatkan sebagai hasil samping dari pengolahan bijih
emas, nikel dan tembaga. Endapan perak dapat berupa endapan pengisian dan
endapan penggantian, serta pengayaan sulfide. Kebanyakan endapan perak didunia
dihasilkan dari dari hidrotermal tipe fissure filling (Sukandarrumidi, 2007).
2.1 Pemanfaatan Hasil Endapan Epitermal
2.1.3 Emas
Emas digunakan sebagai standar keuangan di banyak negara dan
juga digunakan sebagai perhiasan, dan elektronik. Penggunaan emas dalam bidang
moneter dan keuangan berdasarkan nilai moneter absolut dari emas itu sendiri
terhadap berbagai mata uang di seluruh dunia, meskipun secara resmi di bursa
komoditas dunia, harga emas dicantumkan dalam mata uang dolar Amerika. Bentuk
penggunaan emas dalam bidang moneter lazimnya berupa bulion atau batangan emas
dalam berbagai satuan berat gram sampai kilogram.
2.1.2 Sfalerit (ZnS)
Unsur ini biasanya ditemukan bersama dengan logam-logam lain
seperti tembaga dan timbal dalam bijih logam. Seng diklasifikasikan sebagai
kalkofil, yang berarti bahwa unsur ini memiliki afinitas yang rendah terhadap
oksigen dan lebih suka berikatan dengan belerang. Kalkofil terbentuk ketika
kerak bumi memadat di bawah kondisi atmosfer bumi awal yang mendukung reaksi
reduksi. Sfalerit, yang merupakan salah satu bentuk kristal seng sulfida,
merupakan bijih logam yang paling banyak ditambang untuk mendapatkan seng
karena mengandung sekitar 60-62% seng.
Pelapisan seng pada baja untuk mencegah perkaratan merupakan
aplikasi utama seng. Aplikasi-aplikasi lainnya meliputi penggunaannya pada
baterai dan campuan logam.
2.1.2 Timbal (Pb)
Timbal tersebut juga memberikan berbagai manfaat, salah
satunya adalah pelumasan pada dudukan katup dalam proses pembakaran khususnya
bagi mesin-mesin kendaraan bermotor keluaran lama (dekade 1980-an dan
sebelumnya). Adanya fungsi pelumasan dari Timbal pada dudukan katup tersebut,
akan mengakibatkan dudukan katup terjaga dari keausan dan resesi (recession
valve) sehingga lebih tahan lama/awet. Dengan kata lain perawatan untuk dudukan
katup tersebut menjadi lebih murah.
sifat timbal ini yang tahan terhadap korosi (karatan), timbal
ini biasanya digunakan untuk bahan perpipaan, bahan aditif untuk bensin,
baterai, pigmen dan amunisi. Selain itu dalam dunia permesinan terutama
kendaraan bermotor timbal ini juga bermanfaat buat menambah nilai oktan pada
bensin (premium) sehingga efek knocking (ketukan) pada mesin dapat dihindari.
Residu timbal ini berfungsi untuk melapisi katup. Karena ada lapisan ini, maka
ketika katup menutup ada semacam bantalan/pelindung antara bahan metal katup
dengan dudukan katup(valve seat) di cylinder head mesin sehingga terhindar
terjaga dari keausan dan resesi (recession valve) sehingga lebih tahan
lama/awet.
Semoga artikel PROSES TERJADINYA ENDAPAN EPITHERMAL bermanfaat bagi Anda. Jika kamu suka dengan artikel PROSES TERJADINYA ENDAPAN EPITHERMAL ini, like dan bagikan ketemanmu.
Posting Komentar